Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Sejak cerita kehidupanku bermula
Dengan sebuah janji pada Kekasih
Dengan sebuah ikrar yang sejati:
Ketika sampai di ruang bernama dunia
Aku tak akan melupakanmu yang esa
Dan akan kupahat dialog kita pada setiap bongkah
Usia.
Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Dan aku dihujani ribuan butir kerinduan
Selangkah saja setelah perjalanan ini dimulai.
Kekasih yang memiliki kesempurnaan,
Aku telah berdiri menatapi lukisan jaman
Dan aku dihujani ribuan butir kerinduan
Sedetik saja setelah aku kehilangan
Pandang.
( Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Seorang bocah telah membuka mata
Kehidupan yang fana mengajaknya bermain
Di banyak wahana yang ada )
Aku yang pergi berkelana
Sekarang dihujam kerinduan
Ingin segera pulang
Sebelum hujan, sebelum petang.
Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Meski terkadang lengking saudagar terdengar
Dari dalam instana yang rahasia: kubur.
Kekasih aku ingin pulang
Jemputlah sebelum kau robohkan
Sebuah ruang bernama dunia
Arena perang yang rupawan:
Yang setiap detik mencoba
Melenakan.
September 2009
MAWAR UNTUK KEKASIH
; untuk Dzat yang sangat dekat denganku, pun denganmu.
Kemarin telah kudatangi sebuah kebun
Yang diperkosa oleh musim yang khilaf.
Di sana kutemukan remah-remah tangis
Bertebar bagai tahi kambing di tanah kering.
Juga potongan-potongan tulang yang disembunyikan
Dari mata anjing yang nyalang: kehidupan serupa arena perang
Menempa siapa saja menjadi pemburu yang kejam
Atas segala yang hidup dan yag mati.
Tapi kemarin telah kudatangi sebuah kebun
Yang diperkosa oleh musim yang khilaf.
Setelah apa yang kulakukan selama ini;
Menembus batas rindu yang terbentang
Memetik buah dari pohon yang tumbang
Dan keangkuhan yang kubingkai serupa
Foto kenangan masa silam:
Aku petik setangkai mawar yang tersisa
Sebagai penunjuk jalan ke alamatmu
Yang terjal.
:
Dan kini aku datang
Untuk mengucurkan air dari cawan hatiku
Dan menanam mawar itu pada sebidang tanah
Di pekarangan yang luas. Pekarangan rumahmu.
Meski aku tak dapat menatap wajahmu yang rupawan
Dan membaca kabar yang kau titipkan
Pada debur ombak di lautan.
Kasih
Pada segenap waktu yang kau berikan
Telah aku buat sebuah taman di tempat lain
Dengan berbagai macam bunga
Warna warni semesta.
Tapi begitulah kuundang kau untuk keluar
Membuka pintumu yang terkunci
Dan kita berbincang di sebuah kursi:
Barangkali kehidupan akan mati
- kehidupanku sendiri.
September 2009
RAKAAT KOSONG
Telah kudengar kubah masjid berdendang
Pada malam yang membekukan kenangan
Menjadi bongkahan sesal yang tergeletak
di ujung kamar. Kasih, suara adzan yang
menggema itu tak lagi mengkhusyukkan
kalbuku. Entah di mana puing - puing ke-
sadaran menjelma uap - uap keheningan
yang kurasa saat takbir demi takbir berdesir
pelan.
Telah kupancang ratusan rakaat di halaman
rumahku. Burung - burung hinggap dan mematuki
rapal do'aku. Cecak dan semut berseru,
" Hei manusia! Di ruang gelap yang sepi ini, jawablah,
nama siapa yang kan kau sebut sebelum mati?"
Dan gedung yang kubangun di seberang jalan
Seolah memantulkan i'tidal, rukuk, dan sujudku
Menjadi potret semu: tak terbaca selalu.
Telah kufahami isyarat yang dikirm Tuhan
Lewat desir angin malam, butir embun di dasar jalan,
juga raut wajahku yang semakin renta;
pada segenap umur yang tercatat di dahiku,
dosa hinggap dan melekat tanpa malu,
hingga sholat - sholat ku,
Di mana isi rakaat itu?
Agustus 2009
AKU INGIN PULANG, TUHAN
Dinaungi kubah masjid yang rindang, di atas
sajadah yang menghampar, dan di antara keriuhan
suara orang merapal sesal, telah aku katakan padaMu:
Ribuan rakaat yang kubangun di waktu malam, barangkali
tak sampai menyentuh lengkung rembulan. Sedangkan
fajar datang dengan terburu, mentari terlupa rasa malu,
dan zikir ayam tak lagi menggetarkanku.
" pertobatan selalu menumpahkan cairan ke
samudera." Kata dinding masjid yang berdebu
Yang coraknya menjelaskan sebuah rumus padaku:
wa ma kholaqtul jinna wal insan illa liya'buduun
Dan bersama detik yang mengiba, kucoba juga merapal
do'a, meski sebuah benteng rubuh di sudut pertahananku,
biarlah kujadikan jalan menuju
rumahMu.
" pertobatan merupakan jalan lurus yang sering tak ter-
urus." Bisik angin di telingaku, menghadirkan seekor
burung di kelopak mataku - yang mendung. Aku ingin
pulang, Tuhan. Membawa bingkisan penuh catatan
hutang: berjuta rakaat di sebuah hutan yang hilang
ke arahMu.
FITRAH
Tuhan yang tercinta
Ramadhan telah hilang
dari kalender yang
terpajang
tapi biarlah sisa cahayanya menerangi ruang di semua tanggal
Tuhan yang terkasih
Syawalmu telah datang
dengan disambut kata
memaafkan
dari setiap lisan hambamu kepada keluarga, teman, dan handai taulan
Tapi kapan waktunya
Bisa kutahu isi bukumu
adakah ampunan
untukku?
September 2009
