Jumat, 14 Agustus 2009

Agustus

ULTIMATUM UNTUK NEGERI TETANGGA

Telah kalian masuki ruang terlarang:
Tempat kesabaran mengering, tempat kata meliar,
dan tempat dibuatnya pembakaran.

Telah kalian lewati batas ketenangan negriku.
Maka bersiaplah untuk menerima suratan jaman;
burungburung bangkai berpesta di jalan,
langit mengarak gelombang hitam,
dan laut bosan menggenang: tumpah dia ke negri kalian,
sialan!

Tangerang, Agustus 2009


CATATAN DARI KOTA TUA II


; di museum wayang.

Bagai tersangkut di jarum jam yang tajam,
Imaji ku terbang ke arah negri seribu lakon wayang.
Kucoba mengingat banyak wajah dan mengenali seluruh
nama: tapi yang ada hanya ruang kosong penuh kalong.
- meski telah kusinggahi semua sisi bersama gebu hasrat laron.

" Kalau begitu, biar kalian yang lebih dulu mengenalku:
Lakon dari cerita yang tragis. Telah kudengar suara tangis petani
di saat hasil panen menipis. Telah kulihat ibu tua meronta
menahan rasa lapar anakanaknya"

( Masih tak bergeming semua dewa, bagai tak mendengar suara,
ataukah mesti kutulis di daun lontar, biar dikirim merpati saat fajar?)

Ada yang bergerak cepat ke arah sepi;
aku terlepas dari jam yang menunjukkan waktu,
berjalan ke arah sepi yang sama, dan kutemui
seseorang di sana.

" Siapa kau yang datang tanpa undangan jaman?"
Dia bertanya sambil menggerakkan tangan kayunya.
" dewa kah? ramayana kah? mahabrata kah? atau malah
punakawan?"
Kini tangan kayunya menyentuh dadaku. Menantang.

( ah, bukankah sudah kuperkenalkan diriku tadi,
ke mana saja dia?)

" Tanya pada semua yang terjajar di etalase!"
Jawabku.

" Aku rasa kau bukan siapasiapa,
lakon yang terlupa dan tak terlihat mata.
Hanya hilir mudik saja bagai burung mencari
mangsa."

Kuajak dia membaca namaku
Dia bilang tak mengenal tulisanku.
Kudikte huruf dari namaku
Dia bilang benarbenar tak tahu.

Kuucap satu namaku,
" Lesmana"
Dia menatapku tajam dan meragu,
" itu pun namaku!"
Katanya sambil memeluk
tubuhku.


Agustus 2009.


CATATAN DARI KOTA TUA I


; di museum lukisan dan keramik.

Aku bukan sedang menyelami arti
Yang mengambang di ruang gelap ini.
Sebab dinding pun menyanyikan lagu
Untuk aku yang pertamakali menjadi tamu;
empat tahun yang lalu aku tak sempat menemuimu,
perjalanan kanak-kanak itu tak menuju ke arahmu.

Maka ijinkan aku membaca teks ribuan makna
Yang ditulis di atas kanvas, dengan cat yang habis diperas,
juga perasaan yang mengalir begitu deras.
" kadang aku bingung dengan pelukis!" Kataku,
entah pada siapa.

: kurasakan tubuh ini masuk ke dalam ruang yang lain,
lembut kain yang menunjukkan jalan, indah mata yang menggerakan
" oh, di mana arti yang kucari, apa kabar kalian?"

" kadang aku bingung dengan penyair!"
Entah siapa berkata begitu, memecah sunyi yang bertelur,
membuyarkan semua lamunan dalam bentur; tentang komposisi, gradasi, dan
rasa di luar nalar manusia.

Tapi kita mesti samasama berkata:
negri ini sekian lama menyimpan kekayaan,
bersama juga makna dan perasaan, di ruang yang terlampau
dalam dan tak ternyana orang.

20 Agustus 2009


RINDU


Bendera yang berkibar di rumahrumah warga,
padanya aku merasakan sebuah dusta,
lelucon, dan sebuah kemerdekaan yang
fatamorgana. Lihatlah ribuan anak tak bersekolah;
tangan mereka menengadah angkasa: berharap
Tuhan memberikan sejumput sinar bintang- meski
puluhan tahun sejarah, sebenarnya membutakan mata.

Dan sebab apa aku di sini menikmati irama derap pemuda?
sedangkan, dinding gedung tua itu begitu tebal oleh rencana;
perampasan hak rakyat, penyelewengan makna kursi,
serta kudeta para iblis kepada nabinabi tanpa wahyu
yang sekian lama bertahta dalam diksi dan rima sajaknya.
O, sudikah tuan menyampaikan ini kepada mereka:
sesaat setelah pidato presidennya?

Atau biar aku yang mendeklamasikannya di atas mimbar ini?
toh di negri ini reformasi tlah berdiri, maka siapa berani
menembak mati malam ini? iblis yang dikirm jaman buta;
tampang mereka yang jenaka: berdasi, berjas, dan bertahta,
juga para pengikut setianya- sekian lama kemerdekaan ternyata
hanya kamuflase belaka.

Duh Indonesia tercinta tempat kulahir dan dibesarkan,
rasa malu tak tumbuh di hati mereka: maka sudikah kau,
bila nanti kukibarkan lagi benderamu dalam derap langkah,
haru, dan segenap bangga?

Duh Indonesia, dengan ini kusampaikan nasionalisme ala aku:
berjalan dengan kepada tertunduk, mulut terkatup.
Mengantuk.

Tangerang, 15 Agustus 2009




Romantisme Maut


Dialah yang dikirim Tuhan untuk menjemputmu merasakan sunyi
Sudah banyak nadanada dalam ruang kehidupanmu melayang
Juga rindu menempamu menjadi qari yang melantunkan ayatayat suci.
Malam di pesisir pantaimu mendesirkan nama lain dari angkasa yang berubah;
meruntuhkan rangkaian bintang ke halaman rumahmu yang lengang.
Bunga bangkai merekah seperti takdir yang juga memekarkan akhir
dari kehidupan yang bernafas yang berdetak yang berdenyut yang bergerak di
kemaluanmu.

Dia mengawali pertemuan malam ini dengan salam paling hangat
Dilantunkannya dendang yang tak pernah kau dengar di manapun.
Seperti penutup yang manis pada sebuah pertunjukan drama, dia
membawamu menemui rasa paling asing selama detak jantungmu.
Ada sesak yang sejuk di alir darahmu menyeluruh
Ada perih yang manis di kulitmu mengiris, serta
benda seperti duri bermain di tenggorokanmu membuat geli.
Karena dialah yang dikirim Tuhan untuk menjemputmu merasakan sunyi,
terbukalah gerbang di depan rumahmu yang sekian lama terkunci.
Dan ucapkanlah selamat datang untuk akhir yang begitu mengejut-
kan.

Sebab dia; kau juga merasakan makna dari katakata cinta yang terlupa.
Rel kehidupan yang renta ternyata juga tak mampu membuatmu tak celaka
Ada nafas yang tersedak karena secangkir kehidupanmu yang meretak.
Rasakanlah angin malam yang melepasmu mengikutinya merasakan sunyi
Tanganmu begitu khidmat menggenggam tangannya yang lembab; cairan kental,
seperti darah seperti nanah menetes dari mulutnya, yang sempat menciummu mes-
ra.


Sebuah Keranda

Akhirnya kau akan begitu santai berbaring di atas keranda
Dinaungi tirai hijau yang tertulis ayatayat kematian;
Semua jiwa berasal dari Tuhan dan kepadaNya
dikembalikan. Namun kau mendengar dendang lain yang dibisikan
orang; zikirzikir yang tak pernah kau dengar di waktu malam.
Maka lihatlah para kerabat yang mengusungmu pulang
Jejak kaki mereka tertanam ke tanah mengayun lagi melembabkannya.
Ada butir air mata membasahi; bagimu hanya kehilangan yang
sementara. Masih kau nikmati gelap di balik tirai hijau itu
sebagai kenikmatan yang tak pernah kau temu-
kan

Semakin lama kau semakin merasa terhormat saja
Nodanoda yang sempat kau pugar di dinding kehidupanmu
Seperti terlupa oleh dunia dan tak sempat ditulis sebagai sejarah.
Mereka masih mengusungmu pulang dengan dendang yang sama
Kini ada orkestra yang tak diundang menyambut kehadiranmu di makam
Berbagai ornamen yang tak dipesan begitu saja dimainkan orang.
Dan tirai hijau dibuka perlahan oleh orang yang sempat kau kenal.
Dingin; ada sebuah kehilangan yang besar terpampang, wajahwajah lembab,
liang lahat, suara adzan dan lantunan gerak gali tangan orang.
Sebab apa; kau tibatiba merasa lumpuh dan tak berkata?

Kau sendiri di makam
Sudah tak ada lagi dendang yang tadi kau dengar sebagai hiburan
Orangorang meninggalkan dan melepaskanmu dengan perlahan
Sebuah keranda dan tirai hijau di atasnya hilang dibawa orang.
Sebab apa; kini kau yang merasa kehilangan tempat?
Ada serangkai tanya tersaji di depanmu
Saat kau mencoba mengingat masa
lalu.


Ritme Sangkakala

Dan inilah saatnya kita bertemu sebagai hamba tanpa nama
Setelah sekian lama menikmati gelap dalam tanah yang menimbun.
Ada butir semacam embun menenggelamkan beberapa di antara kita
Matahari begitu mesra memberikan wujudnya tak seperti biasa.
Sejengkal di atas kepala kita, dia berbisik tentang hadirnya yang terencana.
Sehampar padang bernama mahsyar begitu sesak dan riuh; orang berjalan,
orang berlari, orang terlentang, orang tenggelam dan banyak orang kelimpungan.
Sedang Tuhan tenangtenang saja, sebab tlah diturunkanNya peringatan sejak
lama.

Sudah hilang dari telingaku bunyi sangkakala yang begitu ritmis
Seperti gerimis di genting rumahku dulu; petir menyambar lamunan.
Tuhan yang maha esa menghampar tuhantuhan dunia yang fana
Beberapa orang mengikuti gerak mereka ke neraka yang menyala.
Tuhan meminta sujud paling tulus kepada kita yang tersisa;
Ada apa? Beberapa orang tak mampu menundukkan badannya.
Lalu langit dilipat menjadi sehampar gelap paling kelam
Ada sebuah jembatan menghubung kita dengan syurga; hampir tak
ternyana. Orangorang melewati dengan masingmasing bekal cahaya;
beberapa redup beberapa benderang.
Di bawah sana api menyalanyala menjilati kehadiran manusia
Beberapa orang menghampirinya dengan jatuh begitu sa-
ja.

Detikdetik kehidupan yang dulu terlupakan
Sadarlah begitu menentukan tempat kita pulang;
Alir sungai, indah pemandangan, pohonpohon kenikmatan.
Tidakkah itu begitu mahal untuk dibayar hanya dengan sekeping se-
sal?


Mantra Maut

Adatiada adatiada adatiada; ada!
Kau ada awalnya tiada kau tiada awalnya ada.
Seperti ketiadaan mengurung ke’adaanmu,
Kau ada maka tiada;
ada!

Nyawadiraga nyawadiraga nyawadiraga; tiada!
Raga bernyawa awalnya raga tak bernyawa
Seperti kenyawaan raga yang fana
Raga bernyawa maka ada;
tiada!

Ada atau tiada
Nyawa atau tak nyawa
Raga awalnya ada bernyawa
Maka akhirnya tiada nyawa
Ada.

Tiada akhirnya kekal ada
Setelah tiada ada tiada
Habis tak nyawa nyawa tak nyawa
Tiada akhirnya kekal
Ada.


Retorika Bercinta


Wahai hamba yang papa,
Langit malam mengundang bertapa.
Gemintang berhambur di sana,
Dirangkai dengan jutaan kata.

Dalam hening dan gelap yang dihembuskan jaman,
Pernahkah kau selami potret kehidupan?
Usia sekian lama membuat lupa, ngundang
Lara dan derita.

O jiwa yang lemah di sudut waktu
Apakah jalan setapak yang berdebu,
Di balik tembok menyimpan malu
Seperti nisan engkau membatu,
Tak pernahkah kau sadari buntu?

Menjadi ujung nyawa tergantung,
Napas henti sekali dentum, nada dunia;
Tak abadi mengalun.

Aku kehilangan ruang, kau kehilangan pandang,
Dunia sekejap dilindas jaman;
Kalamkalam Tuhan, zikirzikir panjang, dan tafakur sepanjang malam,
Tenggelam!

Tuhan berkata jangan:
Kau hampiri lubang hitam.
Tuhan kirim suratan:
Kau buang dan lupakan,
Tinggal lembaran.

Bukankah kau awalnya tiada?
Atau kau sudah lupa?
Bukankah semua akhirnya sirna?
sirna, sirna, sirna!

Retorika ini begitu menyesakkan,
Akankah kita temukan jawab-
an?


Romantisme Derap PASKIBRA


Untuk kawanku, Galih Anjasmarani dan Fahmi Adiyansyah
; dua bocah itu memang menggoda, wajarlah!


Pada sore yang ditinggal terik mentari
Kita masih berdiri menatapi mereka menari
Bersama sedikit asa terpatri di hati
Lihat, senyum mereka terbang bersama debu
Derap langkah kepada siapa
berderu?

Anak negri yang dirawat sejarah;
Darah poyang kita
Deru perjuanganya
Siapa duga?
Kini menjelma jadi cinta;
Senyum mereka
Gelak tawanya
Mendesirkan rasa yang sekian lama
terlupa.

Jangan menjadi uap kenangan
Ini mesti kalian perjuangkan
Biar setulus siang cinta ini menyerang
Bukankan rindu menyelusup sampai malam
kalian?

Derap langkah itu suara cinta
Dua bocah dalam pasukan bercahaya
Menjadi warna tanpa bantah
Kalian mencintainya

Setulus siang
Sehangat senja
Lebih sejuk dari angin
Lebih besar dari apa yang
disadarkan.




Petir



Dari kehancuran seorang penyair
; untuk potret yang sempat mengambang di permukaan air.

Lihatlah darah yang mengucur dari tanganku,
Setiap tetesnya mengalir ke arahmu.

Hiruplah wangi tanah itu,
ada nanah membeku mengkaratkan paku.

Dan nisan yang terpahat di ujung taman;
regas termakan waktu, tua ditelan jaman dan sendiri
terlupakan.

Hingga ruang kamarku menyesak,
kau tak pernah menghapus debu keraguan itu.
Entah lupa mengentaskan atau memang sekedar
niatan.

;

Ah, kasih.
Aku sampai pada sesak ini.

yang mengirimkan isyarat mati
yang mendiktekan batas usia
yang merangkai nada sunyi
yang mendendangkan lagu balada.

Juga yang meniupkan sangkakala percintaan itu,
di batas akhir di rentas tanggung,
Jalang.



Sajak Seorang Pendosa


I

Aku menemuimu dalam sujud shalat malam
dan lampu yang temaram; kau menerima sebagai lawakan,
ketulusan, atau sebuah kewajiban untuk hamba yang puas
berdosa?

Dan ini kusebut sebagai rakaat yang dihembuskan
angin; ada sejuk di setiap takbir, diseling dingin air mata
dan isak atas usia yang papa. Kau menerima sebagai lawakan,
ketulusan, atau sebuah kewajiban untuk hamba yang puas
mengeras?

Lalu fajar mendiktenya sebagai tausiyah,
disampaikan bergetar oleh para pemuka; wa maa kholaqtul jinna
wal insan illa liya'buduun.
Hingga pada mihrab - Mu yang terbuka, kutelanjangi diri,
kumaki dosa sendiri, tapi belum juga usai, kupancang tiang diinMu yang
hakiki.

Sekali lagi, kutemui kau dalam sujud shalat malam
dan lampu yang temaram; hingga betapa nista dan keji,
maksiat begitu cepat menggrogoti hati. Dan Rabb,
ampuni lumbung amal yang tak ada isi, berikan umur sejaman
lagi.



II

Ini takbir pembuka hidup;
Shalat kepada Tuhan, shalat kepada manusia.
Waktu berputar ke arah mana?
Nyatanya rimbun padi dan rinai air mata membeku
dalam khidmat jaman mendalami lafaz adzan dan lantun
zikir.

Tuhan, aku lupa ribuan butir tasbih yang
tak sampai ke arahmu; semua digelindingkan waktu.
Raung serigala, lenguh sapi, dan decit tikus di bawah ranjang
besi. Waktu berputar ke arah mana?
Saat aku didongeng bulan terbelah, adakah yang lebih kuat daripada
do'a?

Maka dapatkah kuteladani keteguhan Ibrahim,
saat api menciumi wangi tubuhnya begitu mesra?
Juga kesabaran Muhammad SAW ; caci dan maki,
rasanya hanya sejilatan semut di alas
kaki?



III


Kita kehilangan suara adzan
riuh orasi petinggi negri
memecah siang di alunalun kota mati.

Kita kehilangan suara adzan
sesak jalan raya Ibu kota
meredupkan senja yang ditinggal mentari
berkelana.

Dua waktu shalat setelah kau sadar,
rindukah pada sebuah tenang?
Lima waktu shalat, bahkan, setelah kau sadar,
lupa kah pada hakikat kehidupan?

Ini sajak yang dikirimkan Tuhan;
tangan bocah setengah legam
sepertiga malam setelah thypus melemaskan,
maka bangunlah masjid sendiri, di surga,
dengan taubat sepanjang hidup
lagi.