Senin, 06 Juli 2009

Antara April - Juli

Jilbab Ilalang III

- Untuk Ainul Mardiyahku, Insany Camilia Kamil;
ana uridu ma'aki daaiman.


Insany,
tlah kita tanam rindu di taman.

Siang tadi sebelum adzan Zuhur berkumandang,
rangkaian cinta dalam hatiku habis sudah terurai.

Lalu sudahkah kau temui cinta di gerbang depan?
Menyapamu dengan senyum tasbih terangkai.

Karena ilalang yang melambai dalam zikir;
aku pertama kali merasakan tenang tak terpikir.
Sebab jilbab di wajahmu melembut;
aku jatuh pada lembah ketercintaan semesta.

Yang menyatukan segenap keindahan,
pada mata dan senyummu yang
kutelan.

:

Ukhti,
sepertiga malam tlah datang.

Sejuknya merasuk dalam dadaku,
menjadi secangkir zikir yang beku.
Ribuan tahun dan maut,
tak akan mencairkannya menjadi laut.

Sebab do'a yang kuterbangkan itu,
akan sampai sebelum matamu mengerjap.
Menjadi mutiara cinta yang gemerlap,
menerangi sisi hatimu yang meluap.

Maka kita bangunkan cinta dunia yang sekian lama tak terjaga;
sudah masa matanya melihat ketulusan yang dikirim do'a,
sebagai wadah dari air mata bahagia.

" wudhu lah, dengan air dari cawan hatiku,
ukhti "

:

Habibah,
kita sumringah dalam syukur melimpah.

Sebab Tuhan mengikat hati kita begitu erat,
wajahmu menjadi tasbih tuturmu menjadi tasbih senyummu menjadi
tasbih.

Sebab kau bidadari yang kutuju,
setelah melewati ribuan gerbang pencarian.
Yang tinggi menjulang dan mencekam, ah,
wangi kesucianmu menguatkan.

Akhirnya ijinkanlah aku menutup sajak ini;
dengan kata yang dibisikan lembarlembar sajadah,
saat mihrab-Nya begitu indah terasa.

Ana uhibbuki,
jiddan.




Jilbab Ilalang II

; Untuk seseorang yang semoga adalah Ainul Mardiyahku.

Kau masih begitu indah ternyata,
hingga malam tak mampu melukismu dengan sempurna.
Dan bersama angin kudengar desir pasir,
dari ladang tempat kutanam cinta beribu butir.

Maka bersama sajak ini,
ijinkanlah aku membawamu terbang lebih tinggi;
menyentuh langit berjuta bintang, meresapi banyak
ungkapan.

:

Ukhti, masih kusimpan senyummu di kantung hatiku.

Sebab seperti malam yang melipur lara kemarau,
keindahanmu membawaku merasakan sunyi paling tepi.
Tempat para saudagar enggan lagi berlayar,
bidadari sepertimu adalah satusatunya alasan.

Maka bersama sajak ini,
ijinkanlah aku mencintaimu dengan cara paling suci.
Kupahat namamu di kamar,
biar kuucap sebagai do'a penutup malam.

Dan ini adalah mimpi seorang pendosa, ukhti.
Di kala masa tak dapat lagi berkata dusta,
akan kusemat sepasang sayap di punggungmu,
sebagai bukti sebagai janji yang hakiki.

Dengan zikir;
aku kirim cinta beribu butir.



Jilbab Ilalang I

; Ukhti( entah untuk siapa sapaan ini kutujukan), tunggulah saat nanti aku datang ke rumahmu dan menemui ayahmu.

Melihatmu tersenyum di antara rimbun ilalang,
hatiku tertegun menatapi bayang jilbabmu di dasar jalan.
Hingga mentari tenggelam di lautan senja hatiku,
bayang matamu enggan juga meninggalkankanku.

Maka biarlah namamu kusebut dalam do'a,
tempat segala harap menyatu menjadi cinta.
Maka biarlah kunikmati pesona kibar jilbabmu,
saat angin menerpa perlahan bersama sejuk menyatu.

Ukhti, entah bagaimana aku menuliskan indahmu
Saat ribuan kata kehilangan makna sufi yang suci.

Apa dengan rangkaian do'aku yang tak sempurna diucap,
kau mampu mendengar lembut rapal sajakku ini?
Jika mata di balik kacamatamu terpejam, bisakah,
kukirim naskah paling indah untuk mimpimu?

;
Kita menyatu dalam senja yang menghampiri malam
atau senja yang meninggalkan siang, biarlah,
dalam kesucian zikir kurasakan dahaga ini menghilang.
Meski ribuan rakaat tak juga sampai salam sang malam.

Malam ini aku menunggu angin mengirimkan jawabmu.
Atau kau yang menunggu sajakku,
Ukhti?


Photo

; malam ini kan kubuat bidadari meradang karena cemburu.

Masih kurasakan alir darahmu menyatu dengan sumsum tulangku,
Senyum yang kau pugar dalam hujan itu masih juga menggetarkanku.

Serta kecantikanmu yang belum juga meluntur disiram keadaan,
Membuatku semakin tak percaya kau pernah masuk dan kutelan.

Kemarilah biar kuusap lembarlembar sayapmu yang mustahil kusam,
Tak rela aku guratgurat senja menyelipkan penat di wajahmu.

Dan kalau kau mencoba menghilang menjadi bayang, tunggu,
biar kurekam cantikmu dalam setiap detik yang akan berlalu.

klick!



Sains Tengah Malam

- sebagai selingan dari pembuatan makalah SAINS yang melelahkan, kutuliskan ini dengan hati yang tidak sekedar mengisi waktu luang-

Pada angin malam yang meniup ke arahku,
ada rindu dari samudera berderu bersama lagu.
Juga sajak yang menjelma organisme itu,
katakata di dalamnya tak tertulis teori dan
terlupa oleh
waktu.

dan mengapa mesti kehilangan nafas
jika saja bisa menjauh dari pohon yang menghisap kesadaranmu?

lalu mengapa kita tulis sebagai catatan
rindu ini nyatanya tak terbendung ribuan buku harianmu?

Dan pada langit malam yang menerima uapan;
doa dan air dari sungai kegelapan.
Telah kuterima bisikmu sebagai pengurai makna.
Yang entah di mana kutemukan lagi rumus ketulusan
itu.

Pulanglah,
kita mesti menghilangkan bayangbayang kehancuran bumi
kita mesti membekukan lagi buihbuih utara mulai kini.

akhirnya,
biar kutulis namamu dalam daftar pustaka
sumber dari segala sajak dan ceri-
ta.


Pesta Maut
; Sajak Penutup.

aku dengar variasi nada sumbang yang lama sekali tak terdengar
menghanyutkanku pada lembah keterlenaan yang meradang panjang
juga membawaku pada jurangjurang dengan dasar terdalam
yang ribuan kali longsor serta gempa menghujam menerjang
menjadikan tempatku tidur hancur dan tenggelam pasir ke-
matian.

aku dengar juga nada kematian berbisik lewat dahan dahan mahoni
menelusuk menyentuh akar melembutkan angin yang menerjang.
Jiwaku lelap dalam tidur, yang pesta maut begitu meriah di sana membuatku
hanyut. Jantung serasa enggan berdenyut meski sudah sampai tenang melarut.
Maka kubiarkan hati semakin keruh semakin terenyuh menyeluruh,
sayang.

konon kata orang; malam ini kan digelar sehampar pesta kematian.
Maut mengundang semua orang dengan dosa masing - masing tertuliskan.
Maaf, seseorang menyebut namaku sebagai tamu kehormatan.
Apa daya tubuh dirajam nada tertinggi kehidupan, disuguh rasa paling nikmat sakarat
penat. Ada benda semacam duri tersangkut di tenggorokanku menyesak tarik ulur.
Sembur darah menyembur dari mulut membuatku tertawa menghancur.
Selamat tinggal, salam pembuka maut kepadaku membuat sama sekali tak
takut.

pesta semakin malam semakin melenakan meradang, selamat tinggal,
kehidupan telah sekian lama membuatku menghilang jejak sepanjang jaman.
Apa daya, tlah kuselipkan pisau di kantung bajuku sebagai pembuka botol kehidupan.
Maut di dalamnya menyeruak mendelesak menusuk menerjang ke dalam jantung, selamat tinggal,
maut begitu melenakan.
bagiku.

Hisab
siang ini, bukalah lembar lembar kehidupanmu yang lama ter-
lupakan. Detik detik yang akan menggelitikmu dengan ribuan sesal
semalaman. Betapa begitu banyak noda di luruh hatimu, kini
memahatmu jadi manusia dengan nyawa setengah. Sebab lainnya me-
regang segera menjadi bayang, dikte untuk buku amalmu nanti di padang
mahsyar. Di kiri atau
kanan?

saat mentari sejengkal di kepalamu membakar
kau tenggelam dalam peluhmu sendiri, muncul di permukaan meneteskan
lagi. Tapi, itu belumlah menjadi nyata belum juga sempat kau rasa.
Masih ada lembar lembar kosong dalam hidupmu menanti tinta kesadaran,
dengan sujud dalam beribu rekaat tahajud, teteskan tangismu untuk yang pertama malam
ini. Ada sesak dalam dadamu menghilang, sejuk di pelupuk hatimu menderas
takjub.

hilangkan semua hingar bingar dunia, biar kau simpan menjadi
cahaya. Lentera yang menemanimu melewati jembatan paling gelap paling
kelam. Jangan sampai kau siakan hingga mati di tengahnya, kau celingukan maka ditelan kobar
naar di dasar. Istighfar, kawan. Istighfar, Na.
mulai dari mana kau urai kusutnya dosa yang terlalu panjang ini? sebentar lagi ashar
menjelang.

akhirnya, akhirnya haruslah terdampar haruslah tertampar
sebab alfa yang kau pugar di dinding kamar kehidupanmu tlah
menyerang. Segeralah pulang ke teras rumahmu dengan ayat ayat pan-
jang.


KATA

di kertasmu, manis. Ada bait bait puisi yang kutulis kemarin
senja. Lembayung merapuhkan bayang di selimutmu menghilang
dan pada malam kembali wajahmu melengkungkan purnama menjadi sabit
senyummu. Dingin yang merasuk dari sela sela mantel renta kehidupanku,
pernah suatu ketika kau membukanya lalu menaruh tepat di jantungku,
" gigilmu menjadi detak yang menggeretak mutlak". Katamu
sambil melayangkan jemarimu yang lentik ke wajahku me-
rauk.

jangan, bulan. Sinarmu biar cerah di waktu siang saja menjadi
'terang'. Temani bintang yang juga menjadi bayang bayangmu di kala
petang. Bukankah senyum yang kau selipkan di selimut tidurku abadi membekas
menghangatkan, lalu mengapa butuh penerang jika aku hanya di kamar merangkai kembali
diktemu tentang kejenakaan, sa-
yang?

hihihi, mulutmu merangkai kata mantra seharian.
baru saja, kau menyulap semua kertas menjadi bunga di tatapan mata-
mu. p-a-n-j-a-n-
g.



JALAN

sirine dari hati yang kau kalungi duri, kemarilah;
biar aku lepaskan satu demi satu dan usah menghalangiku.
Apa kau ingin menolak rindu yang kukirimkan ke jendela kamarmu
semalam? setelah sajak sajak kubacakan menggertak malam menjadi sangat
pendiam? duh, bulan. Jejakmu kuresapi sepanjang jalan menuju halte di
dasar.

nomor seratus dua puluh tiga, di situ angka menjadi begitu
lengang; lengkung senyummu semakin panjang, tatap matamu semakin
dalam, kata katamu mendesak masuk memaksaku menggelap
jalan. duh, bulan. Rindu memahatku jadi pena yang kau isikan tinta cinta
terdalam.

di ujung jalan di mana gelap tlah lama menjelang, bulan,
biar aku meraih dan menggulingmu dalam sajak sajakku yang
nyaman.



DUA

sajakku mengurai mengganda
menjadi begitu sulit diartikan menjadi begitu rumit
diamankan. BAHAYA, sajak penjahat; mudah saja rintik hujan
membawanya pada muara di ujung desamu yang
DUA.


Ah, Ini air mata ternyata
lembab wajahku mengisyaratkan luka, maaf,
rindu tertahan menjadi bangkai.
pada tungku keimananku yang sudah menua, sudah,
kubakar semua dosa menjadi tangis siang ini.

duh, hatiku sesak dirundung tanya. mengapa, kenapa, di mana,
cinta kulupa dan kupugar tanpa berpikir alfa.
aku tak punya kata tak punya rasa, sungguh, rindu
tertanam kini dalam dalam hatiku padamu.

hiks, jantungku lepas dengan tenang. aih,
darah mengucur memancar jadi alir sungai, yang bermuara di
hatimu panjang menunjukkan jalan pulang.
maaf, rindu tertahan jadi bangkai, waktu itu.

dan kini, aih ah hiks hiks, ini air mata ternyata, yang mengalir membasah luruh
tubuhku.

( dari halte, kornet)


Gadis Perangkai Bunga
; untuk putri dari kerajaan Kademangan.

kau yang di taman ketulusan; lentik
jemarimu menjadikan bunga semakin berarti.
desah angin yang menerbangkan cinta,
rindu rindu kau pugar menjadi rasa yang tak
terkalahkan. adakah bunga, ternyata, menghisap kecantikanmu yang
nyata?. kalau begitu, aku yakin kau tak akan pernah habis,
manis.

dan wangi itu; semerbak dalam hatiku
tenang. segenap perjalanan yang kita lalui, kuda putih yang
kutunggangi. berawal dari sana, bunga bunga kau rangkai dalam pikiranku.
sempurna merampungkan naskah mimpi yang impian.
duduk berdua di taman, menatapi malam cerah bertabur
bintang. ah, masih kurang indah kalau kau belum juga
tersenyum.

sayang, matamu ganda dalam pikiranku.
kupinjam seribu untuk melihat, bahwa keindahan ingin
kulumat. menjadi permen yang akan kita emut seharian, manisnya.
rasa bunga.

( inspiring by; bunga desa kademangan, permen kiss yang dibagikan saat hujan)


Awas, ada penyair
Parasmu begitu cantik menyentuh bulan,
awas, ada penyair.
Indah sayap di punggukmu mengurai,
awas, ada penyair.

Kecantikanmu menjadikan surga merindu,
nisan terpahat di bumi sebagai gerbang menuju.
dan kau begitu lembut menerbangkan sunyi,
awas, ada penyair di
hatimu.


Hujan
untuk hujan yang mengguyurku di sebuah kampung, pada sebuah malam

hujan
malam yang panjang setelah bersama seharian
masih ada hasrat yang belum juga sempat aku tuntaskan
pada bola bola matamu yang mengirim beribu suratan,
rasa apa yang kau simpan di kedalamannya
sungai sungai kampungmu yang ditelan malam dan
kegelapan?. alirnya terbayang bahkan sampai aku lelap sampai aku luruh
menyapu peluh di tubuh.

hati hati, jalan lengang ini yang kita lalui
berserak batu yang kalau kau terjatuh, hilang semua asa hilang semua
rasa. Maka jangan sedikit saja kau berjalan menjauh, payung ini di tanganku,
menjadi naung yang kan membawa kita ke suatu masa dan usia
di saat apa yang kita pugar sekarang, perlahan menjadi butir butir embun yang memenuhi
cawan kebahagiaanku.
menuntaskan dahaga tuntas
kerinduanmu.

hujan
aku masih mendengar angin menyiulkan dendang kita yang tadi
dalam do re do re yang menghanyutkan pada nada nada terkadang sumbang
aku lupakan semua duka. Maka pada jalan yang mana kau sanggup untuk melepasku,
aku rela untuk melupakanmu?
semua terminal yang direlakan malam untuk masih terbuka, hilang
semua nama yang memang tak sempat juga tersisa selain
kamu. sungguh, aku gigil
sekarang.

malam, Na
hujan di sini sampai rumahmu kiranya
dengan apa kau akan pulang, sesudah semua jalan kau tutup
bahkan sampai semua trotoar mengoarkan perpisahan, di mana
jiwamu?

aku jawab,
masih hanyut masih tenggelam
di
matamu.


Panas Bumi Bumi Panas
panas bumi bumi panas
ada serangkai api menjulur ke angkasa
dengan segumpal tanya sudahkah kita
menyadarinya. ruang tenang jalan lengang segera
menghilang.

panas bumi bumi panas
paras paras penuh dosa siapa memenuhi
teras?. yang terlupa bahwa ihwal kehidupan adalah
tiada. dan akan kembali pada sepenuhnya
hampa.

o bumi yang panas
o panas yang menimang bumi
sampai di mana perjalanan ini kan sia sia
di rindu dan sesal yang mana manusia
terjaga, di saat kelam datang
terang menghilang.

kiamat menjelang.


Pada Sebuah Mata
pada sebuah mata tadi pagi
kutemui lagi kenangan yang sekian lama terpendam
di bawah keangkuhan jiwa yang kubangun setelah perang
waktu itu. adakah kan terulang, barang sekulum senyummu
cukuplah.

pada sebuah mata tadi pagi
ada revolusi rasa begitu terasa
menyentak jiwaku yang ternyata linglung terlalu
lama. ke mana arah ke mana jalan
kembali?

ada sendu ada luka kurasa
kuakui sepanjang jalan yang kita lalui
aku tak benar benar terbangun, tak benar benar
sadar. lalu mengapa masihlah ada dendam
itu?

hhh, mari kita tulis kembali
rintik rintik hujan yang mengguyur kita
detik detik perjalanan waktu ke kota
di mana mata di mana cinta,

kalau begitu singkat
semua cerita menjadi
hampa?

Balada Waktu Sholat
lima waktu lima kali kumandang adzan mendayu
ke mana pergi kalbu yang hidup di ragaku?

subuh berkelana aku ke dalam mimpi panjang yang belum
usai. aliran sungai tanpa muara, menyatu dengan bantal dan dengkur
bersuara.
o fajar datang menyeringai, wajahku belum juga basah
terbasuh.

lalu...

ke mana pergi iman
jikalau siang yang hanya kerontang
melumpuhkan luruh pesendian tubuhku
menulikan telinga yang kalau bukan seruan, banyak
suara terekam terdengar.

o sore yang lelah aku lupa berserah
banyak urusan dan pikiran dunia menenggelamkanku dalam dalam
ke samudera ke bawah pulau yang gelap
tanpa suara lagi dapat kudengar, apalah lagi
adzan.

mmm, begitu terlena.
aku sepenuhnya terlupa
akan suara serupa apapun
akan panggilan dari sesiapapun.
senja, imanku renta kalbuku buta
sudah.

malam
kelam
sepi
hening
kembali tidur kembali dengkur
kembali mimpi kembali lari,
kata kata
hilangkan saja,

hari ini aku belum shalat,


Bandrek On The Table
bandrek di atas meja
siapakah yang menyuguhkannya tadi malam?
sampai pagi belum juga hilang
hangatnya.

bandrek di atas meja
rempah yang larut di dalamnya
sumpah yang lebur di dalam hati
pembuatnya.

bandrek di atas meja
aku hirup asapnya yang hangat
asap yang serupa awan itu menyeringai kejam
mengapa tak jua tenggelam, Na.
aku cukup panas untuk membuatmu merasakan neraka.

bandrek di atas meja,
sudah habis dan sekarang pemiliknya mencari
aku diam di ujung kamar, segelas kopi dan bumbu kacang
di hadapan.



Layang Layang
senja di kala padang hilang gersang
cahaya datang dari mentari yang tenggelam
layang layang hilang pandang hilang tujuan
lepas dari gulungan dan tak sempat jua aku kejar

senja di kala aku tak lagi dapat bersua
hanyalah terbang layang layang menghiburku dalam lamunan,
yang panjang menenggelamkan aku dalam dalam.

aduhai layang di atas kepala
kau pikir aku menikmatimu dalam tarik dan ulur ini?
kau pikir aku tak gentar oleh deru angin yang menerbangkanmu?
dan apakah kau kira aku bisa meninggalkanmu terbang entah ke mana?
kalau begitu, kau sama sekali tak benar.

aku ingat saat kau masih di tangan,
kubuat ikatan dan kau tersambung dengan gulungan

aku ingat saat kau begitu lugu,
begitu lucu memintaku menerbangkanmu,

o layang layang di atas kepala,
kau kertas yang tidak cukup tebal untuk bisa bertahan
turunlah karena malam ini hujan
datang.

( untuk layang layangku,
ke manakah arah angin jaman membawamu)


Sleeping Drugs
berapa juta malam kan membawaku terlelap
jika ba'da isya kutelan lima butir, tanpa air.

berapa ribu tahun kan mengambang tanpa kata
kalau saja ba'da subuh kutelan dengan tempatnya?

berapa dalam mimpi kan membawaku tenggelam
jika setelah kutelan sebutir, samudera datang dengan celaan.

aneh saja,
aku hanya mimpi semalaman, tak lebih tak kurang.
padahal telah kutelan butir butir senyummu,
mungkin tersangkut di
tenggorokan?.



Habis Tinta
habis tinta
aku tak bisa bercerita
ada darah, katanya.
Baik kalau dicoba.

habis tinta habis sudah.
aku mati bosan tak berkata.
Ada darah, katanya.
Aku jawab,
biarkan saja itu
biasa.