Minggu, 06 September 2009

SEPTEMBER

SEBUAH GERBANG DI ANGKASA

Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Sejak cerita kehidupanku bermula
Dengan sebuah janji pada Kekasih
Dengan sebuah ikrar yang sejati:
Ketika sampai di ruang bernama dunia
Aku tak akan melupakanmu yang esa
Dan akan kupahat dialog kita pada setiap bongkah
Usia.

Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Dan aku dihujani ribuan butir kerinduan
Selangkah saja setelah perjalanan ini dimulai.

Kekasih yang memiliki kesempurnaan,
Aku telah berdiri menatapi lukisan jaman
Dan aku dihujani ribuan butir kerinduan
Sedetik saja setelah aku kehilangan
Pandang.

( Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Seorang bocah telah membuka mata
Kehidupan yang fana mengajaknya bermain
Di banyak wahana yang ada )

Aku yang pergi berkelana
Sekarang dihujam kerinduan
Ingin segera pulang
Sebelum hujan, sebelum petang.

Sebuah gerbang di angkasa telah terbuka
Meski terkadang lengking saudagar terdengar
Dari dalam instana yang rahasia: kubur.

Kekasih aku ingin pulang
Jemputlah sebelum kau robohkan
Sebuah ruang bernama dunia
Arena perang yang rupawan:
Yang setiap detik mencoba
Melenakan.

September 2009

MAWAR UNTUK KEKASIH


; untuk Dzat yang sangat dekat denganku, pun denganmu.

Kemarin telah kudatangi sebuah kebun
Yang diperkosa oleh musim yang khilaf.
Di sana kutemukan remah-remah tangis
Bertebar bagai tahi kambing di tanah kering.
Juga potongan-potongan tulang yang disembunyikan
Dari mata anjing yang nyalang: kehidupan serupa arena perang
Menempa siapa saja menjadi pemburu yang kejam
Atas segala yang hidup dan yag mati.

Tapi kemarin telah kudatangi sebuah kebun
Yang diperkosa oleh musim yang khilaf.
Setelah apa yang kulakukan selama ini;
Menembus batas rindu yang terbentang
Memetik buah dari pohon yang tumbang
Dan keangkuhan yang kubingkai serupa
Foto kenangan masa silam:
Aku petik setangkai mawar yang tersisa
Sebagai penunjuk jalan ke alamatmu
Yang terjal.

:

Dan kini aku datang
Untuk mengucurkan air dari cawan hatiku
Dan menanam mawar itu pada sebidang tanah
Di pekarangan yang luas. Pekarangan rumahmu.
Meski aku tak dapat menatap wajahmu yang rupawan
Dan membaca kabar yang kau titipkan
Pada debur ombak di lautan.

Kasih
Pada segenap waktu yang kau berikan
Telah aku buat sebuah taman di tempat lain
Dengan berbagai macam bunga
Warna warni semesta.
Tapi begitulah kuundang kau untuk keluar
Membuka pintumu yang terkunci
Dan kita berbincang di sebuah kursi:
Barangkali kehidupan akan mati
- kehidupanku sendiri.

September 2009


RAKAAT KOSONG


Telah kudengar kubah masjid berdendang
Pada malam yang membekukan kenangan
Menjadi bongkahan sesal yang tergeletak
di ujung kamar. Kasih, suara adzan yang
menggema itu tak lagi mengkhusyukkan
kalbuku. Entah di mana puing - puing ke-
sadaran menjelma uap - uap keheningan
yang kurasa saat takbir demi takbir berdesir
pelan.

Telah kupancang ratusan rakaat di halaman
rumahku. Burung - burung hinggap dan mematuki
rapal do'aku. Cecak dan semut berseru,
" Hei manusia! Di ruang gelap yang sepi ini, jawablah,
nama siapa yang kan kau sebut sebelum mati?"
Dan gedung yang kubangun di seberang jalan
Seolah memantulkan i'tidal, rukuk, dan sujudku
Menjadi potret semu: tak terbaca selalu.

Telah kufahami isyarat yang dikirm Tuhan
Lewat desir angin malam, butir embun di dasar jalan,
juga raut wajahku yang semakin renta;
pada segenap umur yang tercatat di dahiku,
dosa hinggap dan melekat tanpa malu,
hingga sholat - sholat ku,
Di mana isi rakaat itu?

Agustus 2009


AKU INGIN PULANG, TUHAN

Dinaungi kubah masjid yang rindang, di atas
sajadah yang menghampar, dan di antara keriuhan
suara orang merapal sesal, telah aku katakan padaMu:
Ribuan rakaat yang kubangun di waktu malam, barangkali
tak sampai menyentuh lengkung rembulan. Sedangkan
fajar datang dengan terburu, mentari terlupa rasa malu,
dan zikir ayam tak lagi menggetarkanku.

" pertobatan selalu menumpahkan cairan ke
samudera." Kata dinding masjid yang berdebu
Yang coraknya menjelaskan sebuah rumus padaku:
wa ma kholaqtul jinna wal insan illa liya'buduun
Dan bersama detik yang mengiba, kucoba juga merapal
do'a, meski sebuah benteng rubuh di sudut pertahananku,
biarlah kujadikan jalan menuju
rumahMu.

" pertobatan merupakan jalan lurus yang sering tak ter-
urus." Bisik angin di telingaku, menghadirkan seekor
burung di kelopak mataku - yang mendung. Aku ingin
pulang, Tuhan. Membawa bingkisan penuh catatan
hutang: berjuta rakaat di sebuah hutan yang hilang
ke arahMu.


FITRAH

Tuhan yang tercinta
Ramadhan telah hilang
dari kalender yang
terpajang

tapi biarlah sisa cahayanya menerangi ruang di semua tanggal

Tuhan yang terkasih
Syawalmu telah datang
dengan disambut kata
memaafkan

dari setiap lisan hambamu kepada keluarga, teman, dan handai taulan

Tapi kapan waktunya
Bisa kutahu isi bukumu
adakah ampunan
untukku?

September 2009

Jumat, 14 Agustus 2009

Agustus

ULTIMATUM UNTUK NEGERI TETANGGA

Telah kalian masuki ruang terlarang:
Tempat kesabaran mengering, tempat kata meliar,
dan tempat dibuatnya pembakaran.

Telah kalian lewati batas ketenangan negriku.
Maka bersiaplah untuk menerima suratan jaman;
burungburung bangkai berpesta di jalan,
langit mengarak gelombang hitam,
dan laut bosan menggenang: tumpah dia ke negri kalian,
sialan!

Tangerang, Agustus 2009


CATATAN DARI KOTA TUA II


; di museum wayang.

Bagai tersangkut di jarum jam yang tajam,
Imaji ku terbang ke arah negri seribu lakon wayang.
Kucoba mengingat banyak wajah dan mengenali seluruh
nama: tapi yang ada hanya ruang kosong penuh kalong.
- meski telah kusinggahi semua sisi bersama gebu hasrat laron.

" Kalau begitu, biar kalian yang lebih dulu mengenalku:
Lakon dari cerita yang tragis. Telah kudengar suara tangis petani
di saat hasil panen menipis. Telah kulihat ibu tua meronta
menahan rasa lapar anakanaknya"

( Masih tak bergeming semua dewa, bagai tak mendengar suara,
ataukah mesti kutulis di daun lontar, biar dikirim merpati saat fajar?)

Ada yang bergerak cepat ke arah sepi;
aku terlepas dari jam yang menunjukkan waktu,
berjalan ke arah sepi yang sama, dan kutemui
seseorang di sana.

" Siapa kau yang datang tanpa undangan jaman?"
Dia bertanya sambil menggerakkan tangan kayunya.
" dewa kah? ramayana kah? mahabrata kah? atau malah
punakawan?"
Kini tangan kayunya menyentuh dadaku. Menantang.

( ah, bukankah sudah kuperkenalkan diriku tadi,
ke mana saja dia?)

" Tanya pada semua yang terjajar di etalase!"
Jawabku.

" Aku rasa kau bukan siapasiapa,
lakon yang terlupa dan tak terlihat mata.
Hanya hilir mudik saja bagai burung mencari
mangsa."

Kuajak dia membaca namaku
Dia bilang tak mengenal tulisanku.
Kudikte huruf dari namaku
Dia bilang benarbenar tak tahu.

Kuucap satu namaku,
" Lesmana"
Dia menatapku tajam dan meragu,
" itu pun namaku!"
Katanya sambil memeluk
tubuhku.


Agustus 2009.


CATATAN DARI KOTA TUA I


; di museum lukisan dan keramik.

Aku bukan sedang menyelami arti
Yang mengambang di ruang gelap ini.
Sebab dinding pun menyanyikan lagu
Untuk aku yang pertamakali menjadi tamu;
empat tahun yang lalu aku tak sempat menemuimu,
perjalanan kanak-kanak itu tak menuju ke arahmu.

Maka ijinkan aku membaca teks ribuan makna
Yang ditulis di atas kanvas, dengan cat yang habis diperas,
juga perasaan yang mengalir begitu deras.
" kadang aku bingung dengan pelukis!" Kataku,
entah pada siapa.

: kurasakan tubuh ini masuk ke dalam ruang yang lain,
lembut kain yang menunjukkan jalan, indah mata yang menggerakan
" oh, di mana arti yang kucari, apa kabar kalian?"

" kadang aku bingung dengan penyair!"
Entah siapa berkata begitu, memecah sunyi yang bertelur,
membuyarkan semua lamunan dalam bentur; tentang komposisi, gradasi, dan
rasa di luar nalar manusia.

Tapi kita mesti samasama berkata:
negri ini sekian lama menyimpan kekayaan,
bersama juga makna dan perasaan, di ruang yang terlampau
dalam dan tak ternyana orang.

20 Agustus 2009


RINDU


Bendera yang berkibar di rumahrumah warga,
padanya aku merasakan sebuah dusta,
lelucon, dan sebuah kemerdekaan yang
fatamorgana. Lihatlah ribuan anak tak bersekolah;
tangan mereka menengadah angkasa: berharap
Tuhan memberikan sejumput sinar bintang- meski
puluhan tahun sejarah, sebenarnya membutakan mata.

Dan sebab apa aku di sini menikmati irama derap pemuda?
sedangkan, dinding gedung tua itu begitu tebal oleh rencana;
perampasan hak rakyat, penyelewengan makna kursi,
serta kudeta para iblis kepada nabinabi tanpa wahyu
yang sekian lama bertahta dalam diksi dan rima sajaknya.
O, sudikah tuan menyampaikan ini kepada mereka:
sesaat setelah pidato presidennya?

Atau biar aku yang mendeklamasikannya di atas mimbar ini?
toh di negri ini reformasi tlah berdiri, maka siapa berani
menembak mati malam ini? iblis yang dikirm jaman buta;
tampang mereka yang jenaka: berdasi, berjas, dan bertahta,
juga para pengikut setianya- sekian lama kemerdekaan ternyata
hanya kamuflase belaka.

Duh Indonesia tercinta tempat kulahir dan dibesarkan,
rasa malu tak tumbuh di hati mereka: maka sudikah kau,
bila nanti kukibarkan lagi benderamu dalam derap langkah,
haru, dan segenap bangga?

Duh Indonesia, dengan ini kusampaikan nasionalisme ala aku:
berjalan dengan kepada tertunduk, mulut terkatup.
Mengantuk.

Tangerang, 15 Agustus 2009




Romantisme Maut


Dialah yang dikirim Tuhan untuk menjemputmu merasakan sunyi
Sudah banyak nadanada dalam ruang kehidupanmu melayang
Juga rindu menempamu menjadi qari yang melantunkan ayatayat suci.
Malam di pesisir pantaimu mendesirkan nama lain dari angkasa yang berubah;
meruntuhkan rangkaian bintang ke halaman rumahmu yang lengang.
Bunga bangkai merekah seperti takdir yang juga memekarkan akhir
dari kehidupan yang bernafas yang berdetak yang berdenyut yang bergerak di
kemaluanmu.

Dia mengawali pertemuan malam ini dengan salam paling hangat
Dilantunkannya dendang yang tak pernah kau dengar di manapun.
Seperti penutup yang manis pada sebuah pertunjukan drama, dia
membawamu menemui rasa paling asing selama detak jantungmu.
Ada sesak yang sejuk di alir darahmu menyeluruh
Ada perih yang manis di kulitmu mengiris, serta
benda seperti duri bermain di tenggorokanmu membuat geli.
Karena dialah yang dikirim Tuhan untuk menjemputmu merasakan sunyi,
terbukalah gerbang di depan rumahmu yang sekian lama terkunci.
Dan ucapkanlah selamat datang untuk akhir yang begitu mengejut-
kan.

Sebab dia; kau juga merasakan makna dari katakata cinta yang terlupa.
Rel kehidupan yang renta ternyata juga tak mampu membuatmu tak celaka
Ada nafas yang tersedak karena secangkir kehidupanmu yang meretak.
Rasakanlah angin malam yang melepasmu mengikutinya merasakan sunyi
Tanganmu begitu khidmat menggenggam tangannya yang lembab; cairan kental,
seperti darah seperti nanah menetes dari mulutnya, yang sempat menciummu mes-
ra.


Sebuah Keranda

Akhirnya kau akan begitu santai berbaring di atas keranda
Dinaungi tirai hijau yang tertulis ayatayat kematian;
Semua jiwa berasal dari Tuhan dan kepadaNya
dikembalikan. Namun kau mendengar dendang lain yang dibisikan
orang; zikirzikir yang tak pernah kau dengar di waktu malam.
Maka lihatlah para kerabat yang mengusungmu pulang
Jejak kaki mereka tertanam ke tanah mengayun lagi melembabkannya.
Ada butir air mata membasahi; bagimu hanya kehilangan yang
sementara. Masih kau nikmati gelap di balik tirai hijau itu
sebagai kenikmatan yang tak pernah kau temu-
kan

Semakin lama kau semakin merasa terhormat saja
Nodanoda yang sempat kau pugar di dinding kehidupanmu
Seperti terlupa oleh dunia dan tak sempat ditulis sebagai sejarah.
Mereka masih mengusungmu pulang dengan dendang yang sama
Kini ada orkestra yang tak diundang menyambut kehadiranmu di makam
Berbagai ornamen yang tak dipesan begitu saja dimainkan orang.
Dan tirai hijau dibuka perlahan oleh orang yang sempat kau kenal.
Dingin; ada sebuah kehilangan yang besar terpampang, wajahwajah lembab,
liang lahat, suara adzan dan lantunan gerak gali tangan orang.
Sebab apa; kau tibatiba merasa lumpuh dan tak berkata?

Kau sendiri di makam
Sudah tak ada lagi dendang yang tadi kau dengar sebagai hiburan
Orangorang meninggalkan dan melepaskanmu dengan perlahan
Sebuah keranda dan tirai hijau di atasnya hilang dibawa orang.
Sebab apa; kini kau yang merasa kehilangan tempat?
Ada serangkai tanya tersaji di depanmu
Saat kau mencoba mengingat masa
lalu.


Ritme Sangkakala

Dan inilah saatnya kita bertemu sebagai hamba tanpa nama
Setelah sekian lama menikmati gelap dalam tanah yang menimbun.
Ada butir semacam embun menenggelamkan beberapa di antara kita
Matahari begitu mesra memberikan wujudnya tak seperti biasa.
Sejengkal di atas kepala kita, dia berbisik tentang hadirnya yang terencana.
Sehampar padang bernama mahsyar begitu sesak dan riuh; orang berjalan,
orang berlari, orang terlentang, orang tenggelam dan banyak orang kelimpungan.
Sedang Tuhan tenangtenang saja, sebab tlah diturunkanNya peringatan sejak
lama.

Sudah hilang dari telingaku bunyi sangkakala yang begitu ritmis
Seperti gerimis di genting rumahku dulu; petir menyambar lamunan.
Tuhan yang maha esa menghampar tuhantuhan dunia yang fana
Beberapa orang mengikuti gerak mereka ke neraka yang menyala.
Tuhan meminta sujud paling tulus kepada kita yang tersisa;
Ada apa? Beberapa orang tak mampu menundukkan badannya.
Lalu langit dilipat menjadi sehampar gelap paling kelam
Ada sebuah jembatan menghubung kita dengan syurga; hampir tak
ternyana. Orangorang melewati dengan masingmasing bekal cahaya;
beberapa redup beberapa benderang.
Di bawah sana api menyalanyala menjilati kehadiran manusia
Beberapa orang menghampirinya dengan jatuh begitu sa-
ja.

Detikdetik kehidupan yang dulu terlupakan
Sadarlah begitu menentukan tempat kita pulang;
Alir sungai, indah pemandangan, pohonpohon kenikmatan.
Tidakkah itu begitu mahal untuk dibayar hanya dengan sekeping se-
sal?


Mantra Maut

Adatiada adatiada adatiada; ada!
Kau ada awalnya tiada kau tiada awalnya ada.
Seperti ketiadaan mengurung ke’adaanmu,
Kau ada maka tiada;
ada!

Nyawadiraga nyawadiraga nyawadiraga; tiada!
Raga bernyawa awalnya raga tak bernyawa
Seperti kenyawaan raga yang fana
Raga bernyawa maka ada;
tiada!

Ada atau tiada
Nyawa atau tak nyawa
Raga awalnya ada bernyawa
Maka akhirnya tiada nyawa
Ada.

Tiada akhirnya kekal ada
Setelah tiada ada tiada
Habis tak nyawa nyawa tak nyawa
Tiada akhirnya kekal
Ada.


Retorika Bercinta


Wahai hamba yang papa,
Langit malam mengundang bertapa.
Gemintang berhambur di sana,
Dirangkai dengan jutaan kata.

Dalam hening dan gelap yang dihembuskan jaman,
Pernahkah kau selami potret kehidupan?
Usia sekian lama membuat lupa, ngundang
Lara dan derita.

O jiwa yang lemah di sudut waktu
Apakah jalan setapak yang berdebu,
Di balik tembok menyimpan malu
Seperti nisan engkau membatu,
Tak pernahkah kau sadari buntu?

Menjadi ujung nyawa tergantung,
Napas henti sekali dentum, nada dunia;
Tak abadi mengalun.

Aku kehilangan ruang, kau kehilangan pandang,
Dunia sekejap dilindas jaman;
Kalamkalam Tuhan, zikirzikir panjang, dan tafakur sepanjang malam,
Tenggelam!

Tuhan berkata jangan:
Kau hampiri lubang hitam.
Tuhan kirim suratan:
Kau buang dan lupakan,
Tinggal lembaran.

Bukankah kau awalnya tiada?
Atau kau sudah lupa?
Bukankah semua akhirnya sirna?
sirna, sirna, sirna!

Retorika ini begitu menyesakkan,
Akankah kita temukan jawab-
an?


Romantisme Derap PASKIBRA


Untuk kawanku, Galih Anjasmarani dan Fahmi Adiyansyah
; dua bocah itu memang menggoda, wajarlah!


Pada sore yang ditinggal terik mentari
Kita masih berdiri menatapi mereka menari
Bersama sedikit asa terpatri di hati
Lihat, senyum mereka terbang bersama debu
Derap langkah kepada siapa
berderu?

Anak negri yang dirawat sejarah;
Darah poyang kita
Deru perjuanganya
Siapa duga?
Kini menjelma jadi cinta;
Senyum mereka
Gelak tawanya
Mendesirkan rasa yang sekian lama
terlupa.

Jangan menjadi uap kenangan
Ini mesti kalian perjuangkan
Biar setulus siang cinta ini menyerang
Bukankan rindu menyelusup sampai malam
kalian?

Derap langkah itu suara cinta
Dua bocah dalam pasukan bercahaya
Menjadi warna tanpa bantah
Kalian mencintainya

Setulus siang
Sehangat senja
Lebih sejuk dari angin
Lebih besar dari apa yang
disadarkan.




Petir



Dari kehancuran seorang penyair
; untuk potret yang sempat mengambang di permukaan air.

Lihatlah darah yang mengucur dari tanganku,
Setiap tetesnya mengalir ke arahmu.

Hiruplah wangi tanah itu,
ada nanah membeku mengkaratkan paku.

Dan nisan yang terpahat di ujung taman;
regas termakan waktu, tua ditelan jaman dan sendiri
terlupakan.

Hingga ruang kamarku menyesak,
kau tak pernah menghapus debu keraguan itu.
Entah lupa mengentaskan atau memang sekedar
niatan.

;

Ah, kasih.
Aku sampai pada sesak ini.

yang mengirimkan isyarat mati
yang mendiktekan batas usia
yang merangkai nada sunyi
yang mendendangkan lagu balada.

Juga yang meniupkan sangkakala percintaan itu,
di batas akhir di rentas tanggung,
Jalang.



Sajak Seorang Pendosa


I

Aku menemuimu dalam sujud shalat malam
dan lampu yang temaram; kau menerima sebagai lawakan,
ketulusan, atau sebuah kewajiban untuk hamba yang puas
berdosa?

Dan ini kusebut sebagai rakaat yang dihembuskan
angin; ada sejuk di setiap takbir, diseling dingin air mata
dan isak atas usia yang papa. Kau menerima sebagai lawakan,
ketulusan, atau sebuah kewajiban untuk hamba yang puas
mengeras?

Lalu fajar mendiktenya sebagai tausiyah,
disampaikan bergetar oleh para pemuka; wa maa kholaqtul jinna
wal insan illa liya'buduun.
Hingga pada mihrab - Mu yang terbuka, kutelanjangi diri,
kumaki dosa sendiri, tapi belum juga usai, kupancang tiang diinMu yang
hakiki.

Sekali lagi, kutemui kau dalam sujud shalat malam
dan lampu yang temaram; hingga betapa nista dan keji,
maksiat begitu cepat menggrogoti hati. Dan Rabb,
ampuni lumbung amal yang tak ada isi, berikan umur sejaman
lagi.



II

Ini takbir pembuka hidup;
Shalat kepada Tuhan, shalat kepada manusia.
Waktu berputar ke arah mana?
Nyatanya rimbun padi dan rinai air mata membeku
dalam khidmat jaman mendalami lafaz adzan dan lantun
zikir.

Tuhan, aku lupa ribuan butir tasbih yang
tak sampai ke arahmu; semua digelindingkan waktu.
Raung serigala, lenguh sapi, dan decit tikus di bawah ranjang
besi. Waktu berputar ke arah mana?
Saat aku didongeng bulan terbelah, adakah yang lebih kuat daripada
do'a?

Maka dapatkah kuteladani keteguhan Ibrahim,
saat api menciumi wangi tubuhnya begitu mesra?
Juga kesabaran Muhammad SAW ; caci dan maki,
rasanya hanya sejilatan semut di alas
kaki?



III


Kita kehilangan suara adzan
riuh orasi petinggi negri
memecah siang di alunalun kota mati.

Kita kehilangan suara adzan
sesak jalan raya Ibu kota
meredupkan senja yang ditinggal mentari
berkelana.

Dua waktu shalat setelah kau sadar,
rindukah pada sebuah tenang?
Lima waktu shalat, bahkan, setelah kau sadar,
lupa kah pada hakikat kehidupan?

Ini sajak yang dikirimkan Tuhan;
tangan bocah setengah legam
sepertiga malam setelah thypus melemaskan,
maka bangunlah masjid sendiri, di surga,
dengan taubat sepanjang hidup
lagi.

Senin, 06 Juli 2009

Antara April - Juli

Jilbab Ilalang III

- Untuk Ainul Mardiyahku, Insany Camilia Kamil;
ana uridu ma'aki daaiman.


Insany,
tlah kita tanam rindu di taman.

Siang tadi sebelum adzan Zuhur berkumandang,
rangkaian cinta dalam hatiku habis sudah terurai.

Lalu sudahkah kau temui cinta di gerbang depan?
Menyapamu dengan senyum tasbih terangkai.

Karena ilalang yang melambai dalam zikir;
aku pertama kali merasakan tenang tak terpikir.
Sebab jilbab di wajahmu melembut;
aku jatuh pada lembah ketercintaan semesta.

Yang menyatukan segenap keindahan,
pada mata dan senyummu yang
kutelan.

:

Ukhti,
sepertiga malam tlah datang.

Sejuknya merasuk dalam dadaku,
menjadi secangkir zikir yang beku.
Ribuan tahun dan maut,
tak akan mencairkannya menjadi laut.

Sebab do'a yang kuterbangkan itu,
akan sampai sebelum matamu mengerjap.
Menjadi mutiara cinta yang gemerlap,
menerangi sisi hatimu yang meluap.

Maka kita bangunkan cinta dunia yang sekian lama tak terjaga;
sudah masa matanya melihat ketulusan yang dikirim do'a,
sebagai wadah dari air mata bahagia.

" wudhu lah, dengan air dari cawan hatiku,
ukhti "

:

Habibah,
kita sumringah dalam syukur melimpah.

Sebab Tuhan mengikat hati kita begitu erat,
wajahmu menjadi tasbih tuturmu menjadi tasbih senyummu menjadi
tasbih.

Sebab kau bidadari yang kutuju,
setelah melewati ribuan gerbang pencarian.
Yang tinggi menjulang dan mencekam, ah,
wangi kesucianmu menguatkan.

Akhirnya ijinkanlah aku menutup sajak ini;
dengan kata yang dibisikan lembarlembar sajadah,
saat mihrab-Nya begitu indah terasa.

Ana uhibbuki,
jiddan.




Jilbab Ilalang II

; Untuk seseorang yang semoga adalah Ainul Mardiyahku.

Kau masih begitu indah ternyata,
hingga malam tak mampu melukismu dengan sempurna.
Dan bersama angin kudengar desir pasir,
dari ladang tempat kutanam cinta beribu butir.

Maka bersama sajak ini,
ijinkanlah aku membawamu terbang lebih tinggi;
menyentuh langit berjuta bintang, meresapi banyak
ungkapan.

:

Ukhti, masih kusimpan senyummu di kantung hatiku.

Sebab seperti malam yang melipur lara kemarau,
keindahanmu membawaku merasakan sunyi paling tepi.
Tempat para saudagar enggan lagi berlayar,
bidadari sepertimu adalah satusatunya alasan.

Maka bersama sajak ini,
ijinkanlah aku mencintaimu dengan cara paling suci.
Kupahat namamu di kamar,
biar kuucap sebagai do'a penutup malam.

Dan ini adalah mimpi seorang pendosa, ukhti.
Di kala masa tak dapat lagi berkata dusta,
akan kusemat sepasang sayap di punggungmu,
sebagai bukti sebagai janji yang hakiki.

Dengan zikir;
aku kirim cinta beribu butir.



Jilbab Ilalang I

; Ukhti( entah untuk siapa sapaan ini kutujukan), tunggulah saat nanti aku datang ke rumahmu dan menemui ayahmu.

Melihatmu tersenyum di antara rimbun ilalang,
hatiku tertegun menatapi bayang jilbabmu di dasar jalan.
Hingga mentari tenggelam di lautan senja hatiku,
bayang matamu enggan juga meninggalkankanku.

Maka biarlah namamu kusebut dalam do'a,
tempat segala harap menyatu menjadi cinta.
Maka biarlah kunikmati pesona kibar jilbabmu,
saat angin menerpa perlahan bersama sejuk menyatu.

Ukhti, entah bagaimana aku menuliskan indahmu
Saat ribuan kata kehilangan makna sufi yang suci.

Apa dengan rangkaian do'aku yang tak sempurna diucap,
kau mampu mendengar lembut rapal sajakku ini?
Jika mata di balik kacamatamu terpejam, bisakah,
kukirim naskah paling indah untuk mimpimu?

;
Kita menyatu dalam senja yang menghampiri malam
atau senja yang meninggalkan siang, biarlah,
dalam kesucian zikir kurasakan dahaga ini menghilang.
Meski ribuan rakaat tak juga sampai salam sang malam.

Malam ini aku menunggu angin mengirimkan jawabmu.
Atau kau yang menunggu sajakku,
Ukhti?


Photo

; malam ini kan kubuat bidadari meradang karena cemburu.

Masih kurasakan alir darahmu menyatu dengan sumsum tulangku,
Senyum yang kau pugar dalam hujan itu masih juga menggetarkanku.

Serta kecantikanmu yang belum juga meluntur disiram keadaan,
Membuatku semakin tak percaya kau pernah masuk dan kutelan.

Kemarilah biar kuusap lembarlembar sayapmu yang mustahil kusam,
Tak rela aku guratgurat senja menyelipkan penat di wajahmu.

Dan kalau kau mencoba menghilang menjadi bayang, tunggu,
biar kurekam cantikmu dalam setiap detik yang akan berlalu.

klick!



Sains Tengah Malam

- sebagai selingan dari pembuatan makalah SAINS yang melelahkan, kutuliskan ini dengan hati yang tidak sekedar mengisi waktu luang-

Pada angin malam yang meniup ke arahku,
ada rindu dari samudera berderu bersama lagu.
Juga sajak yang menjelma organisme itu,
katakata di dalamnya tak tertulis teori dan
terlupa oleh
waktu.

dan mengapa mesti kehilangan nafas
jika saja bisa menjauh dari pohon yang menghisap kesadaranmu?

lalu mengapa kita tulis sebagai catatan
rindu ini nyatanya tak terbendung ribuan buku harianmu?

Dan pada langit malam yang menerima uapan;
doa dan air dari sungai kegelapan.
Telah kuterima bisikmu sebagai pengurai makna.
Yang entah di mana kutemukan lagi rumus ketulusan
itu.

Pulanglah,
kita mesti menghilangkan bayangbayang kehancuran bumi
kita mesti membekukan lagi buihbuih utara mulai kini.

akhirnya,
biar kutulis namamu dalam daftar pustaka
sumber dari segala sajak dan ceri-
ta.


Pesta Maut
; Sajak Penutup.

aku dengar variasi nada sumbang yang lama sekali tak terdengar
menghanyutkanku pada lembah keterlenaan yang meradang panjang
juga membawaku pada jurangjurang dengan dasar terdalam
yang ribuan kali longsor serta gempa menghujam menerjang
menjadikan tempatku tidur hancur dan tenggelam pasir ke-
matian.

aku dengar juga nada kematian berbisik lewat dahan dahan mahoni
menelusuk menyentuh akar melembutkan angin yang menerjang.
Jiwaku lelap dalam tidur, yang pesta maut begitu meriah di sana membuatku
hanyut. Jantung serasa enggan berdenyut meski sudah sampai tenang melarut.
Maka kubiarkan hati semakin keruh semakin terenyuh menyeluruh,
sayang.

konon kata orang; malam ini kan digelar sehampar pesta kematian.
Maut mengundang semua orang dengan dosa masing - masing tertuliskan.
Maaf, seseorang menyebut namaku sebagai tamu kehormatan.
Apa daya tubuh dirajam nada tertinggi kehidupan, disuguh rasa paling nikmat sakarat
penat. Ada benda semacam duri tersangkut di tenggorokanku menyesak tarik ulur.
Sembur darah menyembur dari mulut membuatku tertawa menghancur.
Selamat tinggal, salam pembuka maut kepadaku membuat sama sekali tak
takut.

pesta semakin malam semakin melenakan meradang, selamat tinggal,
kehidupan telah sekian lama membuatku menghilang jejak sepanjang jaman.
Apa daya, tlah kuselipkan pisau di kantung bajuku sebagai pembuka botol kehidupan.
Maut di dalamnya menyeruak mendelesak menusuk menerjang ke dalam jantung, selamat tinggal,
maut begitu melenakan.
bagiku.

Hisab
siang ini, bukalah lembar lembar kehidupanmu yang lama ter-
lupakan. Detik detik yang akan menggelitikmu dengan ribuan sesal
semalaman. Betapa begitu banyak noda di luruh hatimu, kini
memahatmu jadi manusia dengan nyawa setengah. Sebab lainnya me-
regang segera menjadi bayang, dikte untuk buku amalmu nanti di padang
mahsyar. Di kiri atau
kanan?

saat mentari sejengkal di kepalamu membakar
kau tenggelam dalam peluhmu sendiri, muncul di permukaan meneteskan
lagi. Tapi, itu belumlah menjadi nyata belum juga sempat kau rasa.
Masih ada lembar lembar kosong dalam hidupmu menanti tinta kesadaran,
dengan sujud dalam beribu rekaat tahajud, teteskan tangismu untuk yang pertama malam
ini. Ada sesak dalam dadamu menghilang, sejuk di pelupuk hatimu menderas
takjub.

hilangkan semua hingar bingar dunia, biar kau simpan menjadi
cahaya. Lentera yang menemanimu melewati jembatan paling gelap paling
kelam. Jangan sampai kau siakan hingga mati di tengahnya, kau celingukan maka ditelan kobar
naar di dasar. Istighfar, kawan. Istighfar, Na.
mulai dari mana kau urai kusutnya dosa yang terlalu panjang ini? sebentar lagi ashar
menjelang.

akhirnya, akhirnya haruslah terdampar haruslah tertampar
sebab alfa yang kau pugar di dinding kamar kehidupanmu tlah
menyerang. Segeralah pulang ke teras rumahmu dengan ayat ayat pan-
jang.


KATA

di kertasmu, manis. Ada bait bait puisi yang kutulis kemarin
senja. Lembayung merapuhkan bayang di selimutmu menghilang
dan pada malam kembali wajahmu melengkungkan purnama menjadi sabit
senyummu. Dingin yang merasuk dari sela sela mantel renta kehidupanku,
pernah suatu ketika kau membukanya lalu menaruh tepat di jantungku,
" gigilmu menjadi detak yang menggeretak mutlak". Katamu
sambil melayangkan jemarimu yang lentik ke wajahku me-
rauk.

jangan, bulan. Sinarmu biar cerah di waktu siang saja menjadi
'terang'. Temani bintang yang juga menjadi bayang bayangmu di kala
petang. Bukankah senyum yang kau selipkan di selimut tidurku abadi membekas
menghangatkan, lalu mengapa butuh penerang jika aku hanya di kamar merangkai kembali
diktemu tentang kejenakaan, sa-
yang?

hihihi, mulutmu merangkai kata mantra seharian.
baru saja, kau menyulap semua kertas menjadi bunga di tatapan mata-
mu. p-a-n-j-a-n-
g.



JALAN

sirine dari hati yang kau kalungi duri, kemarilah;
biar aku lepaskan satu demi satu dan usah menghalangiku.
Apa kau ingin menolak rindu yang kukirimkan ke jendela kamarmu
semalam? setelah sajak sajak kubacakan menggertak malam menjadi sangat
pendiam? duh, bulan. Jejakmu kuresapi sepanjang jalan menuju halte di
dasar.

nomor seratus dua puluh tiga, di situ angka menjadi begitu
lengang; lengkung senyummu semakin panjang, tatap matamu semakin
dalam, kata katamu mendesak masuk memaksaku menggelap
jalan. duh, bulan. Rindu memahatku jadi pena yang kau isikan tinta cinta
terdalam.

di ujung jalan di mana gelap tlah lama menjelang, bulan,
biar aku meraih dan menggulingmu dalam sajak sajakku yang
nyaman.



DUA

sajakku mengurai mengganda
menjadi begitu sulit diartikan menjadi begitu rumit
diamankan. BAHAYA, sajak penjahat; mudah saja rintik hujan
membawanya pada muara di ujung desamu yang
DUA.


Ah, Ini air mata ternyata
lembab wajahku mengisyaratkan luka, maaf,
rindu tertahan menjadi bangkai.
pada tungku keimananku yang sudah menua, sudah,
kubakar semua dosa menjadi tangis siang ini.

duh, hatiku sesak dirundung tanya. mengapa, kenapa, di mana,
cinta kulupa dan kupugar tanpa berpikir alfa.
aku tak punya kata tak punya rasa, sungguh, rindu
tertanam kini dalam dalam hatiku padamu.

hiks, jantungku lepas dengan tenang. aih,
darah mengucur memancar jadi alir sungai, yang bermuara di
hatimu panjang menunjukkan jalan pulang.
maaf, rindu tertahan jadi bangkai, waktu itu.

dan kini, aih ah hiks hiks, ini air mata ternyata, yang mengalir membasah luruh
tubuhku.

( dari halte, kornet)


Gadis Perangkai Bunga
; untuk putri dari kerajaan Kademangan.

kau yang di taman ketulusan; lentik
jemarimu menjadikan bunga semakin berarti.
desah angin yang menerbangkan cinta,
rindu rindu kau pugar menjadi rasa yang tak
terkalahkan. adakah bunga, ternyata, menghisap kecantikanmu yang
nyata?. kalau begitu, aku yakin kau tak akan pernah habis,
manis.

dan wangi itu; semerbak dalam hatiku
tenang. segenap perjalanan yang kita lalui, kuda putih yang
kutunggangi. berawal dari sana, bunga bunga kau rangkai dalam pikiranku.
sempurna merampungkan naskah mimpi yang impian.
duduk berdua di taman, menatapi malam cerah bertabur
bintang. ah, masih kurang indah kalau kau belum juga
tersenyum.

sayang, matamu ganda dalam pikiranku.
kupinjam seribu untuk melihat, bahwa keindahan ingin
kulumat. menjadi permen yang akan kita emut seharian, manisnya.
rasa bunga.

( inspiring by; bunga desa kademangan, permen kiss yang dibagikan saat hujan)


Awas, ada penyair
Parasmu begitu cantik menyentuh bulan,
awas, ada penyair.
Indah sayap di punggukmu mengurai,
awas, ada penyair.

Kecantikanmu menjadikan surga merindu,
nisan terpahat di bumi sebagai gerbang menuju.
dan kau begitu lembut menerbangkan sunyi,
awas, ada penyair di
hatimu.


Hujan
untuk hujan yang mengguyurku di sebuah kampung, pada sebuah malam

hujan
malam yang panjang setelah bersama seharian
masih ada hasrat yang belum juga sempat aku tuntaskan
pada bola bola matamu yang mengirim beribu suratan,
rasa apa yang kau simpan di kedalamannya
sungai sungai kampungmu yang ditelan malam dan
kegelapan?. alirnya terbayang bahkan sampai aku lelap sampai aku luruh
menyapu peluh di tubuh.

hati hati, jalan lengang ini yang kita lalui
berserak batu yang kalau kau terjatuh, hilang semua asa hilang semua
rasa. Maka jangan sedikit saja kau berjalan menjauh, payung ini di tanganku,
menjadi naung yang kan membawa kita ke suatu masa dan usia
di saat apa yang kita pugar sekarang, perlahan menjadi butir butir embun yang memenuhi
cawan kebahagiaanku.
menuntaskan dahaga tuntas
kerinduanmu.

hujan
aku masih mendengar angin menyiulkan dendang kita yang tadi
dalam do re do re yang menghanyutkan pada nada nada terkadang sumbang
aku lupakan semua duka. Maka pada jalan yang mana kau sanggup untuk melepasku,
aku rela untuk melupakanmu?
semua terminal yang direlakan malam untuk masih terbuka, hilang
semua nama yang memang tak sempat juga tersisa selain
kamu. sungguh, aku gigil
sekarang.

malam, Na
hujan di sini sampai rumahmu kiranya
dengan apa kau akan pulang, sesudah semua jalan kau tutup
bahkan sampai semua trotoar mengoarkan perpisahan, di mana
jiwamu?

aku jawab,
masih hanyut masih tenggelam
di
matamu.


Panas Bumi Bumi Panas
panas bumi bumi panas
ada serangkai api menjulur ke angkasa
dengan segumpal tanya sudahkah kita
menyadarinya. ruang tenang jalan lengang segera
menghilang.

panas bumi bumi panas
paras paras penuh dosa siapa memenuhi
teras?. yang terlupa bahwa ihwal kehidupan adalah
tiada. dan akan kembali pada sepenuhnya
hampa.

o bumi yang panas
o panas yang menimang bumi
sampai di mana perjalanan ini kan sia sia
di rindu dan sesal yang mana manusia
terjaga, di saat kelam datang
terang menghilang.

kiamat menjelang.


Pada Sebuah Mata
pada sebuah mata tadi pagi
kutemui lagi kenangan yang sekian lama terpendam
di bawah keangkuhan jiwa yang kubangun setelah perang
waktu itu. adakah kan terulang, barang sekulum senyummu
cukuplah.

pada sebuah mata tadi pagi
ada revolusi rasa begitu terasa
menyentak jiwaku yang ternyata linglung terlalu
lama. ke mana arah ke mana jalan
kembali?

ada sendu ada luka kurasa
kuakui sepanjang jalan yang kita lalui
aku tak benar benar terbangun, tak benar benar
sadar. lalu mengapa masihlah ada dendam
itu?

hhh, mari kita tulis kembali
rintik rintik hujan yang mengguyur kita
detik detik perjalanan waktu ke kota
di mana mata di mana cinta,

kalau begitu singkat
semua cerita menjadi
hampa?

Balada Waktu Sholat
lima waktu lima kali kumandang adzan mendayu
ke mana pergi kalbu yang hidup di ragaku?

subuh berkelana aku ke dalam mimpi panjang yang belum
usai. aliran sungai tanpa muara, menyatu dengan bantal dan dengkur
bersuara.
o fajar datang menyeringai, wajahku belum juga basah
terbasuh.

lalu...

ke mana pergi iman
jikalau siang yang hanya kerontang
melumpuhkan luruh pesendian tubuhku
menulikan telinga yang kalau bukan seruan, banyak
suara terekam terdengar.

o sore yang lelah aku lupa berserah
banyak urusan dan pikiran dunia menenggelamkanku dalam dalam
ke samudera ke bawah pulau yang gelap
tanpa suara lagi dapat kudengar, apalah lagi
adzan.

mmm, begitu terlena.
aku sepenuhnya terlupa
akan suara serupa apapun
akan panggilan dari sesiapapun.
senja, imanku renta kalbuku buta
sudah.

malam
kelam
sepi
hening
kembali tidur kembali dengkur
kembali mimpi kembali lari,
kata kata
hilangkan saja,

hari ini aku belum shalat,


Bandrek On The Table
bandrek di atas meja
siapakah yang menyuguhkannya tadi malam?
sampai pagi belum juga hilang
hangatnya.

bandrek di atas meja
rempah yang larut di dalamnya
sumpah yang lebur di dalam hati
pembuatnya.

bandrek di atas meja
aku hirup asapnya yang hangat
asap yang serupa awan itu menyeringai kejam
mengapa tak jua tenggelam, Na.
aku cukup panas untuk membuatmu merasakan neraka.

bandrek di atas meja,
sudah habis dan sekarang pemiliknya mencari
aku diam di ujung kamar, segelas kopi dan bumbu kacang
di hadapan.



Layang Layang
senja di kala padang hilang gersang
cahaya datang dari mentari yang tenggelam
layang layang hilang pandang hilang tujuan
lepas dari gulungan dan tak sempat jua aku kejar

senja di kala aku tak lagi dapat bersua
hanyalah terbang layang layang menghiburku dalam lamunan,
yang panjang menenggelamkan aku dalam dalam.

aduhai layang di atas kepala
kau pikir aku menikmatimu dalam tarik dan ulur ini?
kau pikir aku tak gentar oleh deru angin yang menerbangkanmu?
dan apakah kau kira aku bisa meninggalkanmu terbang entah ke mana?
kalau begitu, kau sama sekali tak benar.

aku ingat saat kau masih di tangan,
kubuat ikatan dan kau tersambung dengan gulungan

aku ingat saat kau begitu lugu,
begitu lucu memintaku menerbangkanmu,

o layang layang di atas kepala,
kau kertas yang tidak cukup tebal untuk bisa bertahan
turunlah karena malam ini hujan
datang.

( untuk layang layangku,
ke manakah arah angin jaman membawamu)


Sleeping Drugs
berapa juta malam kan membawaku terlelap
jika ba'da isya kutelan lima butir, tanpa air.

berapa ribu tahun kan mengambang tanpa kata
kalau saja ba'da subuh kutelan dengan tempatnya?

berapa dalam mimpi kan membawaku tenggelam
jika setelah kutelan sebutir, samudera datang dengan celaan.

aneh saja,
aku hanya mimpi semalaman, tak lebih tak kurang.
padahal telah kutelan butir butir senyummu,
mungkin tersangkut di
tenggorokan?.



Habis Tinta
habis tinta
aku tak bisa bercerita
ada darah, katanya.
Baik kalau dicoba.

habis tinta habis sudah.
aku mati bosan tak berkata.
Ada darah, katanya.
Aku jawab,
biarkan saja itu
biasa.